Sabtu, 21 November 2009

Bandung Spirit dan Peningkatan Peran Republik Indonesia di Dunia

oleh: Putri Dwi Arlin

Bandung Spirit dan Peningkatan Peran
Republik Indonesia di Dunia

Berakhirnya perang dunia II bukan berarti berakhir pula penderitan-penderitaan yang dialami oleh bangsa-bangsa di dunia. Tetap saja masih banyak terjadi pergolakan antar bangsa di dunia. Berbagai pergolakan ini disebatkan oleh lahirnya dua blok kekuatan yang bertentangan, yaitu Blok Barat dan Blok Timur. Bangsa-bangsa di Asia-Afrika juga tidak luput dari sasaran mereka. Kedua blok ini saling berlomba untuk menarik negara-negara di Asia-Afrika agar menjadi pendukung mereka. Hal inilah yang menimbulkan suasana permusuhan yang terselubung antara kedua blok tersebut demikian pula dengan para pendukungannya yang kita kenal dengan istilah Perang Dingin.
Pergolakan yang terjadi juga disebabkan karena masih adanya penjajahan di dunia. Banyak tempat di daerah Asia-Afrika yang menjadi jajahan bangsa Barat. Namun, semenjak tahun 1945 banyak negara yang merdeka di sekitar Asia-Afrika dan banyak pula yang masih berjuang bagi kemerdekaan negaranya. Sisa-sisa penjajahan juga masih menghantui negara-negra yang telah merdeka. Seperti masalah Indonesia mengenai perebutan Irian Barat, pendudukan secara paksa oleh pasukan Israel yang dibantu Amerika di tanah India dan Pakistan yang memaksa warga untuk mengungsi. Situasi dalam negeri negara-negara yang telah merdeka pun masih banyak yang belum stabil dikarenakan masih terjadi konflik antar kelompok masyarakat sebagai akibat masa penjajahan dang pengaruh perang dingin tersebut. Bukan hanya itu, seluruh bangsa di dunia juga sedang dilanda ketakutan akibat dikembangkannya senjata nuklir yang dapat memusnahkan seluruh umat manusia. Keadaan itulah yang melatarbelakangi lahirnya gagasan untuk mengadakan Konferensi Asia Afrika.
Pada tanggal 25 Agustus 1953, Perdana Menteri Indonesia, Mr. Ali Sastroamidjojo di depan parlemen memberikan keterangan tentang politik luar negeri yang isinya mencerminkan ide dan kehendak Pemerintah Indonesia untuk mempererat kerja sama di antara negara-negara Asia Afrika. Pada awal taun 1954, Perdana Menteri Srilanka mengundang perwakilan negara dari Birma, India, Indonesia, Pakistan untuk mengadakan sebuah pertemuan yang diberi nama Konferensi Kolombo yang membicarakan masalah-masalah yang menjadi kepentingan bersama. Pada konferensi ini, Indonesia mengajukan usulan untuk mengadakan pertemuan lain yang lebih luas anatara negara-negara Asia dan Afrika. Pernyataan tersebut yang memberi arah kepada lahirnya Konferensi Asia Afrika. Selanjutnya, atas undangan Perdana Menteri Indonesia, Kelima negara tadi mengadakan konferensi di Bogor yang dienal dengan Konferensi Panca Negara dan membicarakan persiapan pelaksanaan Konferensi Asia Afrika. Konferensi Bogor berhasil merumuskan kesepakatan bahwa Konferensi Asia Afrika diadakan atas penyelenggaraan bersama dan kelima negara peserta konferensi tersebut menjadi negara sponsornya. Undangan kepada negara-negara peserta disampaikan oleh Pemerintah Indonesia atas nama lima negara. Dan akhirnya, pada tanggal 18 sampai 24 April 1955 terselenggaralah Konferensi Asia Afrika di Bandung dan dihadiri 24 negara dari Asia dan Afrika.
Konferensi Asia Afrika di Bandung telah berhasil menggalang persatuan dan kerja sama di antara negara-negara Asia dan Afrika, baik dalam menghadapi masalah internasional maupun masalah regiobal. Konferensi Asia Afrika telah membakar semangat dan menambah kekuatan moral para pejuang bangsa-bangsa Asia dan Afrika yang pada masa itu tengah memperjuangkan kemerdekaan tanah air mereka, sehingga kemudian lahirlah sejumlah negara merdeka dibenua Asia dan Afrika. Semua itu menandakan bahwa ciat-cita dan semangat Dasa Sila Bandung semakin merasuk kedalam tubuh bangsa-bangsa Asia dan Afrika. Jiwa Bandung dengan Dasa Silanya telah mengubah pandangan dunia tentang hubungan internasional. Bandung telah merintis kelahiran Dunia Ketiga atau “ Non-Aligned ” dan Gerakan Non-Blok yang telah mematahakan dominasi kedua negara adidaya dalam dunia internasional. Bandung telah mengubah juga struktur Perserikatan Bangsa-bangsa . Forum PBB bukan lagi forum eksklusif Barat dan Timur. Konferensi ini merupakan suara hati dari mayoritas umat manusia, terutama dari benua Asia dan Afrika, yang ingin meningkatkan nasionalisme ke tingkat kerjasama internasional. Ini juga merupakan titik tolak yang dipelopori oleh negara-negara Asia-Afrika terhadapa rezim lama dalam dunia internasional.
Bagi Indonesia, konferensi ini telah membawa dampak besar bagi bangsa ini. Nama Indonesia menjadi lebih dikenal di dunia internasional dan menaikkan derajat politik luar negeri Indonesia. Indonesia dianggap berhasil menjadi pelopor dan tuan rumah bagi terselenggaranya konferensi yang tujuannya menginginkan perdamaian dunia ini. Konferensi ini diilhami oleh garis besar politik luar negeri Indonesia yang bebas dan aktif. Setelah adanya konferensi ini, Indonesia aktif diundang oleh negara-negara lain dalam berbagai acara.
Sebagai penutup uraian singkat ini, dikutip bagian terakhir pidato penutupan Ketua Konferensi Asuia Afrika sebagai berikut : “May we continue on the way we have taken together and may the Bandung Conference stay as a beacom guiding the future progress of Asia and Afrika.

“ Semoga kita dapat meneruskan perjalanan kita diatas jalan yang telah kita pilih bersama-sama dan semoga Konferensi Bandung ini tetap tegak sebagai sebuah mercusuar yang membimbing kemajuan dimasa depan dari Asia dan Afrika “


Tidak ada komentar:

Posting Komentar