Rabu, 28 April 2010

Komunisme dan Perkembangannya di Cina

Komunisme lahir pada awal abad ke-19 sebagai bentuk perlawanan terhadap ketidak-adilan kepada kaum buruh dan pekerja yang hanya dijadikan robot produksi industri akibat kapitalisme. Kapitalisme dipandang hanya mementingkan kepentingan pemilik modal atau kaum borjuis dan mengesampingkan kesejahteraan para pekerja atau kaum proletar. Karl Marx dan Friedrich Engels menulis Manifest der Kommunistischen pada tahun 1848 yang berisikan teori komunisme sebagai sebuah analisis pendekatan terhadap perjuangan kelas dan ekonomi kesejahteraan. Komunisme sering dikaitkan dengan Marxisme. Tujuan dari faham komunisme ini adalah untuk menuju masyarakat yang sosialis atau masyarakat utopia. Komunisme menggunakan sistem sosialisme yang membatasi kepemilikan modal oleh individu. Semuanya harus dikuasai negara dengan alibi seluruhnya adalah milik rakyat dan untuk kepentingan rakyat secara merata. Komunisme disebut-sebut muncul dari pemikiran Vladimir Lenin. Pada tahun 1916, Lenin menganalisa dasar pemikiran imperialisme yang menjadikan dunia terbagi dalam kelas-kelas (kaya dan miskin, borjuis dan proletar) serta timbul eksploitasi terhadap pekerja oleh kaum pemilik modal demi keuntungan pribadi. Komunisme merupakan faham yang digunakan oleh parta-partai komunis di seluruh dunia.


Gerakan revolusi di Rusia merupakan buah dari pemikiran Lenin mengenai strategi untuk negara-negara terbelakang. Vladimir Lenin merupakan pimpinan dari kelompok Bolshevik yang merupakan golongan radikal dari partai Buruh Sosial Demokrat di Rusia. Mereka mendirikan Partai Komunis Rusia pada tahun 1912. Ia dan pengikutnya menginginkan perubahan yang revolusioner di Rusia dan semuanya harus dipimpin oleh pusat. Ia mengundang seluruh kaum revolusioner di Rusia pada waktu itu untuk mempengaruhi dan mengajak para buruh dan pekerja untuk ikut dalam proses revolusi keluar dari kapitalisme. Ini merupakan hal yang tidak mudah untuk menggalang masa karena rezim kepemimpinan Tsar Nikolai II pada masa itu merupakan rezim yang kuat dan ia menolak demokratisasi di Rusia. Di bidang ekonomi industri saat itu sangat maju tetapi semua dibawah kekuasaan kaisar. Di negara-negara Eropa Barat terjadi revolusi borjuis dimana aturan-aturan monarki disubtitusi dengan aturan baru dari parlemen yang terpilih. Pertumbuhan ekonomi dan politik semakin meningkat dan para borjuis menjadi semankin berkuasa di Eropa. Tetapi hal tersebut tidak terjadi di Rusia, para borjuis Rusia lemah dalam ekonomi dan masih takut untuk bekerjasama dengan buruh dan pekerja. Dalam proses revolusi ini, Lenin menginginkan adanya keterlibatan seluruh pekerja dan petani untuk bersatu dalam menggulingkan Tsar dan melawan para petani kaya. Ia kemudian menerapkan sistem perwakilan pekerja dan petani yang dipilih sendiri oleh mereka. Sistem ini mulai diterapkan pada tahun 1917 sebagai penanda revolusi Rusia atau Revolusi Bolshevik. Menurut kaum Bolshevik, revolusi ini akan berhasil apabila para petani dan buruh penggarap lahan mengambil alih kontrol atau kepemilikan tanah dari para tuan tanah yang berkuasa. Lenin menganggap bahwa selama ini para petani miskin tidak sadar telah diperdaya, maka dari itu mereka perlu untuk mendukung revolusi ini agar nasib cepat berubah. Mereka dapat menggunakan kekuasaan politik sebagai alat untuk mengambil alih kontrol tanah tersebut. Revolusi Bolshevik di Rusia pada tahun 1917 merupakan penanda diterapkannya komunisme sebagai sebuah ideologi.


“Sesuatu telah berubah seperti kita yang dulu kita katakan. Pelajaran yang di dapat dari revolusi telah menegaskan kebenaran penjelasan atau argumen-argumen kita. Pertama, dengan kaum tani melawan monarki, melawan tuan-tuan tanah, melawan pemikiran abad pertengahan atau mediavalism (dan untuk meningkatkan revolusi terhadap sisa-sisa borjuasi, demokratik borjuis). Kemudian bersama dengan kaum petani miskin, semi-proletariat, dan semua yang tereksploitasi, melawan kapitalisme, termasuk orang-orang kaya pedesaan, para tengkulak, lintah-darat, dan semuanya itu meningkatkan revolusi ke tahapan sosialis. Jika kita berusaha mendirikan sebuah “tembok cina” antara tahap pertama dan kedua, untuk memisahkan keduanya (tahap satu dan dua) dengan alasan selain tingkatan kesiapan proletariat dan tingkatan persatuan atau kesatuan dengan para petani, berarti sangat mendistorsi Marxisme, menjadikannya vulgar, memindahkan liberalisme ke tempatnya semula.” (Lenin:1918)


Komunisme di Cina berawal dari proyek Uni soviet untuk meyebarkan faham dan pengaruhnya ke negara-negara satelit disekitarnya. Revolusi Bolshevik ini kemudian seperti terulang kembali pada perang saudara yang terjadi di Tiongkok pada tahun 1949. Awalnya, Soviet mendirikan Komunis Internasional di Shanghai. Dan pada tahun 1921, Partai Komunis Cina berdiri di negeri Tiongkok ini. Di Cina pada masa itu terdapat dua partai besar yaitu Partai Komunis Cina (PKC) yang dipimpin oleh Mao Zedong dan Partai Nasionalis Cina (PNC) atau Kuomintang yang dipimpin oleh Chiang Kai Shek. Partai Nasionalis Cina merupakan partai yang pendiri-pendirinya adalah orang-orang revolusioner Cina pertama yang ingin mendirikan Negara Republik Nasional Cina. Mereka menganut paham nasionalis. Sedangkan Partai Komunis Cina adalah partai yang dilatarbelakangi oleh revolusi Bolshevik. PKC menganut paham komunisme. Para intelektual Cina sangat tertarik pada keberhasilan revolusi Bolshevik di Rusia, maka dari itu mereka senang mempelajari buku-buku ajaran komunisme.


Pada awalnya kedua partai ini berkoalisi pada tahun 1923 dan mereka sepakat untuk menyatukan Cina. Ini merupakan strategi dari PKC karena mereka berfikir bahwa PNC adalah inti dari revolusi nasional Cina. Selama itu PNC percaya bahwa apabila seluruh kekuasaan masih di tangan PNC, maka komunis Rusia pasti bisa dimanfaatkan. Pada saat itu PNC menguasai Cina Selatan dan mereka juga ingin menguasai Cina Utara sehingga Cina dapat dipersatukan dalam Revolusi Nasional. Harapan tersebut mereka wujudkan dengan melakukan operasi militer yang dipimpin oleh Chiang Kai Shek . Beberapa daerah di Cina Utara berhasil dikuasai seperti Shanghai dan Nanjing. Setelah berhasil menguasai beberapa wilayah di Cina Utara, Chiang Kai Shek kemudian membantai beberapa kaum komunis yang dirasa mengancam. Sebenarnya Chiang Kai Shek sudah tidak menyukai kaum komunis sejak lama, ia sudah curiga dari awal saat terjadi koalisi. Peristiwa pembantaian komunis oleh PNC ini disebut dengan “Teror Putih”.


Mendengar hal tersebut, Stalin mengirimkan telegram pada PKC untuk segera melakukan tindakan pengamanan terhadap kaum komunis di Cina. Salah satu orang PKC yang ternyata nasionalis mendengar hal tersebut kemudia ia menganggap bahwa Soviet sebenarnya ingin menggagalkan revolusi nasional Cina dan menjadikannya negara Cina Komunis. Kemudian beliau keluar dari PKC dan bergabung kembali dengan PNC setelah memberitahukan hal ini pada Chiang Kai Shek yang akhirnya memutuskan hubungan kerjasama antara PNC dan PKC. Stalin menginstruksikan pada para petani untuk melanjutkan gerakan revolusioner merebut paksa tanah-tanah milik para tuan tanah di Cina. Namun, Chiang Kai Shek segera mengerahkan pasukannya untuk menangkap buruh-buruh yang membangkang serta menggeledah rumah-rumah yang dicurigai sebagai pusat pemimpin gerakan pemogokan dan sabotase. Lalu, Chiang Kai Shek menjadikan Nanjing sebagai ibukota dan markas besar PNC. Kegagalan PKC ini membuat pemimpinnya dihukum dan diangkatlah Mao Zedong sebagai Sekjen PKC yang baru.


Mulai bersatunya Cina di bawah PNC membuat Jepang khawatir dengan kedudukannya karena ia memiliki hak istimewa di jalur kereta api Manchuria Selatan yang ternyata telah dibongkar. Dengan alasan tersebut, kemudian Jepang menyerang pasukan Cina dan pada tahun 1932 mendirikan negara boneka Manchuguo. PKC berharap perang saudara dengan PNC berhenti dan mereka bisa bersatu melawan Jepang. Mao Zedong mengajak untuk memdirikan front persatuan nasional Cina anti Jepang dan bertujuan untuk mendirikan Republik Rakyat Cina agar dapat bersatu melawan Jepang.


Pada saat Perang Dunia kedua, Jepang di serang oleh Amerika Serikat dengan bom atom yang dijatuhkan di kota Nagasaki dan Hiroshima. Kemudian, Uni Soviet juga turut menyerang pasukan Jepang yang berada di Manchuria. Jepang akhirnya menyerah dan berakhirlah perang dunia kedua. PNC dan PKC kemudian saling berlomba menduduki posisi yang ditinggalkan oleh Jepang. PNC kemudia meminta bantuan pada Amerika untuk mengirimkan pasukannya membantu PNC menguasai daerah-daerah di Cina Utara dan Manchuria. Namun Uni Soviet dan PKC telah menduduki Manchuria terlebih dahulu. Amerika yang tidak ingin berperang dengan Soviet beralibi bahwa mereka hanya membantu melucuti senjata pasukan Jepang dan memulangkan mereka. PNC yang merasa khawatir dengan tentara merah PKC, kemudian berunding dengan Mao Zedong untuk mempertimbangkan koalisi sebagai dasar kerjasama antara Nasionalis dengan Komunis. Tetapi kemudian PKC menolak. Amerika yang bermaksud membantu, mengutus Jenderal George Marshall untuk menengahi permusuhan dan membuat ”Konferensi Nasional untuk Perundingan Politik” dengan wakil dari masing-masing partai untuk menyusun sebuah Undang-Undang Dasar Demokratis. Namun, bentrokan kembali terjadi di Manchuria antara tentara merah dengan tentara nasional. PKC dengan tentara merahnya berhasil menguasai sebagian besar Manchuria dan mengalahkan tentara nasional. Tidak tinggal diam, tentara nasional PNC pun menyerang balik dan berhasil menduduki sebagian besar daerah kekuasaan PKC. PNC kemudian mengadakan sidang Permusyawaratan Politik Nasional Cina dan menghasilkan Undang-Undang Dasar serta memilih Chiang Kai Shek sebagai presiden.


Chiang Kai Shek mulai menepatkan pasukan terbaiknya di Manchuria sebagai pusat industri. Di sisi lain, PKC tidak berdiam diri. Diam-diam mereka telah mempersiapkan tentara Merah yang tangguh selama setengah tahun. Perlahan tetapi pasti, Tentara Merah PKC menyerang kota-kota di Manchuria dan pada akhirnya berhasil menduduki seluruh kota di Manchuria. PNC yang lambat laun kehabisan tentara dan senjata kemudian berunding dengan PKC tetapi tidak dihiraukan. Pemerintahan Nasionalis kemudian jatuh dan mengungsi ke Taiwan. Setelah itu, PKC mulai sibuk membentuk Panitia Persiapan Majelis Permusyawaratan Politik Rakyat Cina yang kemudian bersidang pada tanggal 21 sampai 30 September 1949. Dan pada tanggal 1 Oktober 1949 berdirilah Republik Rakyat Cina yang biasa kita sebut RRC.


Hingga kini, kedua kubu yang berada di daratan Cina dengan yang berada di Taiwan masih saling berseteru. Memang pada dasarnya, kedua kubu ini sulit untuk disatukan karena memiliki perbedaan ideologi yang sangat tajam. Meskipun masih menjadi bagian dari Republik Rakyat Cina (RRC), Taiwan sampai sekarang masih terus berusaha memisahkan diri dan berusaha mendapatkan pengakuan dari negara-negara lain.


Dalam paham komunisme, menurut saya, hanya ada dua kemungkinan yang dicapai melalui sistem sosialisnya. Menjadikan rakyat kaya secara keseluruhan atau menjadikan rakyat miskin seluruhnya. Untuk menjadikan rakyat kaya atau berkecukupan secara merata, akan sangat rumit karena banyak faktor yang harus dibagi dan diperhitungkan secara pas. Sehingga, akan lebih mudah, melalui sistem ini negara menjadikan rakyat miskin secara merata.

Sources:

Bolshevik Rebut Kekuasaan di Rusia

http://www.vhrmedia.com/vhr-corner/agenda,Bolshevik-Rebut-Kekuasaan-di-Rusia-708.html

[Accessed 26 Maret 2010]

Newnam, Kathy and Marina Carman. The Russian Revolution and V.I. Lenin

http://www.greenleft.org.au/

[Accessed 26 Maret 2010]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar